Kompetisi vs Keutamaan
Beberapa minggu terakhir saya banyak berinteraksi dengan dosen di kelas mengenai strategi bisnis utamanya dalam hubungannya dengan strategi IS/IT di perusahaan. Banyak filosofi ternyata yang saya dapati dalam diskusi-diskusi tersebut, dan saat ini saya ingin menyimpan dahulu berbagai teori tersebut untuk menuliskan pendapat saya sendiri tentang kompetisi, terutama setelah membaca tulisan dari Bruce D. Henderson yang berjudul The Origin of Strategy dalam sebuah buku lama dari Harvard Business Review yang saya temukan secara tidak sengaja di perpustakaan pusat Universitas Indonesia.
Persaingan/kompetisi (Competition), awal-awal paragraf artikel tersebut yang menyebut Hukum Gause tentang Kompetisi Penyingkiran (terjemahannya mungkin seperti itu) menyadarkan saya bahwa kompetisi adalah sebuah sifat alamiah manusia sejak sebelum dilahirkan sejak masih berupa sel sperma dalam masa pembuahan dan untuk seumur hidupnya, manusia akan selalu berkompetisi.
Kompetisi menjadi pembahasan dalam bidang manajemen bisnis, karena kebanyakan konsep yang sedang saya pelajari akan bermuara kemari, bagaimana memenangkan kompetisi bisnis. Jika kompetisi memang menjadi naluri primitif manusia, apakah kita tidak terjebak dalam pola pikir alamiah kita tersebut dalam mencari cara untuk memahami bisnis atau apapun itu?
Mungkin artikel dari Alfie Kohn berjudul Competition vs Excellence dapat sedikit mewakili rasa penasaran saya. Artikel tersebut berbicara dalam konteks pendidikan, namun sebagaimana konteks biologi mewakili pemahaman kita di bidang lain, alternatif yang ditawarkan oleh pakar dalam bidang pendidikan mungkin dapat juga mewakili pemahaman saya.
Keutamaan (excellence), bisa jadi merupakan jawaban dari cara kita melihat sesuatu. Beberapa hal dapat kita jadikan pelajaran bahwa motivasi meraih keutamaan lebih dahsyat efeknya dibanding pihak-pihak yang memiliki motivasi sekedar berkompetisi. Ada perbedaan yang mencolok dalam biografi orang besar atau perusahaan besar dengan pihak-pihak yang lainnya, mereka mengejar keutamaan, bukan memenangi kompetisi, namun pada akhirnya menjadi pemenang dalam “kompetisi” yang secara mental nampaknya tidak mereka ikuti.
Konsekuensi dari pertanyaan ini adalah ada kemungkinan dalam pembelajaran saya ke depan, mungkin saya akan semakin yakin melengkapi diri dengan teori keutamaan lebih daripada teori kompetisi.
Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengajak saudara memikirkan, apakah keutamaan memang dapat dijadikan alternatif ataupun pelengkap konsep kompetisi? Atau adakah konsep lain yang dapat menjadi alternatif dasar pola pikir kita memahami perilaku kita dalam segala bidang?